by

PENTINGNYA PENGETAHUAN TENTANG HADIS DHA’IF: MEMAKMURKAN MASJID VS PENCEGAHAN CORONA

-OPINI, RELIGI-176 views

Oleh H. Muhammad Isya, MA.Hum

Selain faham betul akan konteks hadis, sangat penting memahami kualitas hadis itu sendiri. Sangat dikhawatirkan, justru yang lemah dan super lemah dijadikan dalil untuk motif tertentu dan juga secara konteksnya dalam hal yang berbeda. Hadis lemah atau disitilahkan dalam ilmu hadis dha’īf dan juga antonim shaḥīḥ, yaitu hadis yang tidak mengandung sifat ḥasan. Memang, dalam menyikapi kualitas hadis ini, terkhusus tujuan amaliah, ulama berbeda pendapat; membolehkan dan melarang. Akan tetapi, menurut Al-Hafizh Ibn Hajar yang dijelaskan oleh Dr. Muhammad ath-Thaḥḥān dalam kitab Mushthalaḥul Ḥadīts salah satunya menyimpulkan bahwa untuk tujuan amaliah boleh menggunakan hadis dha’īf asalkan bukan kualitas dha’īf jiddan atau super lemah (Muhammad ath-Thaḥḥān: 54).

Kerja memahami kualitas itu tampaknya sudah dipermudah, karena dalam keterangan di kitab-kitab hadis itu sendiri sudah dimuat atau penjelasan hadis di kitab-kitab lain sudah banyak. Bahkan, tidak hanya di sisi kualitas, tetapi juga tema yang sama dalam kitab itu sendiri dan juga kitab hadis di luarnya.

Contoh yang terdekat dengan kondisi kekinian ialah hadis memakmurkan masjid dengan konteks virus Corona. Virus ini pada pencegahannya menghindari tempat-tempat ramai seperti masjid dan inilah yang dibandingkan dengan hadis memakmurkan masjid. Tidak sedikit terdengar di mimbar-mimbar masjid dan di acara-acara lainnya penggunaan hadis tersebut dengan dalih sebagai solusi dari permasalahan bangsa saat ini. Yang dikhwatirkan, akan timbul sikap mengabaikan himbauan pemerintah di daerah tertentu. Padahal, himbauan itu juga sejalan dengan pendapat Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum Muhammadiyah dan Ketua Umum Nahdlatul Ulama.

 

Contoh Hadis:

يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي لأَهِمُّ بِأَهْلِ الأَرْضِ عَذَابَاً، فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوْتِي، وَالْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ، وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالأَسْحَارِ،صَرَفْتُ عَنْهُمْ “

“Allah SWT., berfirman: sesungguhnya Aku hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi, apabila Aku memandang kepada : orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahKu, orang-orang yang saling menyukai karena Aku, dan, memandang kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur, maka Aku palingkan azab itu dari mereka.”

Hadis Qudsi ini diriwayatkan al-Baihaqi pada bab Syu’bil Īmān, nomor 9051 sanadnya dari Shāliḥ al-Murri dari Tsabit al-Bunāni dan dari Anas bin Malik. Melalui sanad Shāliḥ al-Murri, hadis ini juga diriwayatkan: Abū al-Ḥasan an-Na’āli nomor 18, ad-Dailami dalam Musnadil Firdaus nomor 4436 dan Ibn ‘Adiy di dalam al-Kāmil (5/94). Secara sanad, hadis ini lemah karena terdapat Shāliḥ al-Murri. Bahkan, menurut al-Bukhāri dan Abū Ḥātim hadis ini “Mungkar” dan menurut an-Nasā’I “Matruk” karena terdapat Yaḥya bin Ma’īn, ‘Ali bin ad-Maddini, Ad-Dāraquthni dan al-Ḥāfizh.

Oleh sebab itu, tidak tepat menyematkan hadis ini dalam konteks pandemi Corona saat ini. Selain dari konteks yang berbeda, juga kualitas hadis ini yang super lemah sehingga meskipun untuk tujuan amaliah sekali pun tidak dapat dipakai. Untuk saat ini tidak ada larangan salat atau beribadah secara umum, yang ada pengalihan dari yang sifatnya berbaur dengan banyak orang dibatasi di rumah saja, karena kekhawatiran terjangkitnya virus ini. Sangat dikhawatirkan, masjid yang tadinya menjadi tempat yang suci sekarang tercemar menjadi tempat penyebaran corona. Belajarlah kita dari negara Saudi, pemerintah mereka berani menutup dua masjid mulia, Haram dan Nabawi, untuk mencegah penyebaran wabah ini lebih besar lagi. Wallahu a’lam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed