by

MENYIKAPI PANDEMI CORONA : Konteks Bahagia Berpuasa Bukan Berasal dari Semarak di Masjid

-OPINI, RELIGI-198 views

Oleh: H. Muhammad Isya, MA.Hum

Semarak Ramadahan  tahun 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan bahkan pernyataan orang-orang tua di generasi tahun 60-an mengatakan “belum pernah terjadi seperti ini”. Bungo, bahkan dunia Islam sekali pun merasakan sekali dampak Covid-19. Yang tadinya Ramadhan diisi dengan semarak kegiatan-kegiatan Islami dan sekarang sudah dibatasi. Hal tersebut sejalan dengan himbauan pemerintah setempat untuk mengalihkan salat tarawih dan tadarus yang biasanya di masjid-masjid ke rumah masing-masing.

Mubalig yang tadinya mengajak di mimbar-mimbar masjid dan di taklim-taklim untuk memakmurkan masjid, sekarang berbanding terbalik. Serba salah, khawatir menimbulkan kebingungan di masyarakat; dari sikap ajakan ke peralihan kembali ke rumah. Padahal jamaah ramai di masjid saja sudah disyukuri karena lamanya menanamkan “anjuran memakmurkan masjid” dan sekarang diwanti-wanti lagi atas pandemi Corona. Oleh sebab itu, tidak heran dalam hal mewanti-wanti tersebut beberapa kalangan dai memilih diam.

Membatasi berjamaah tarawih dan tadarus di masjid terkesan menghilangkan bahagia dan itulah pandangan masyarakat secara umum. Terkesan bahwa ramainya suaranya lantunan ayat suci Alquran di microphone masjid-masjid sehabis tarawih itu melambangkan kebahagiaan puasa. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang resah atas bacaan tajwid banyak yang salah dan terburu-buru membaca karena tujuan cepat khatam. Kesalahan tanda panjang dan pendek (mad) dinilai pelajaran yang berkelanjutan, tetapi dalam hal pelafalan saja masih berlepotan; huruf qaf terbaca kaf, huruf tsa terbaca sa, dan lain-lain.

Kesan itulah yang mesti dihilangkan karena tidak berdalil. Justru bahagia berpuasa yang paling sederhana ialah dalam salah satu hadis shahih yang bersumber dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW., bersabda:

وللصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح بفطره، وإذا لقى ربه فرح بصومه

“Bagi orang yang berpuasa itu terdapat dua kebahagiaan: jika ia berbuka bahagia dengan berbukanya dan jika ia berjumpa dengan Tuhannya bahagia atas puasanya” (Muttafaqun ‘alaih)

Hal paling sederhana justru bahagia ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Allah.  Dalam hal berbuka, diri yang tadinya dilarang dari hal-hal yang membatalkan puasa salah satunya makan dan minum, tibalah saatnya berbuka. Mengutip pendapat Ibnu Rajab Rahimahullah ta’ala, ketika masa makan dan minum itu larang, akan muncul peningkatan keinginan atasnya dan saat berbuka hal itu justru diharuskan. Wajar ketika berbuka tersebut timbulnya kebahagiaan karena hal yang dinanti mulai dari Subuh hingga Magrib.

Adapun kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya, yaitu orang yang berpuasa akan mendapatkan balasan dari Allah SWT., atas tabungan pahala yang di dunia ini dan itu sangat dibutuhkan di akhirat kelak. Sebagaimana salah satunya pada akhir surah al-Muzzammil ayat 20 dinyatakan:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed