by

MEMAHAMI KONTEKS HADIS MOTIVASI

-OPINI, RELIGI-452 views

Oleh H. Muhammad Isya, M.A. Hum.

[Dosen Tetap Institut Agama Islam Tebo]

Hadis, perkataan dan perbuatan serta takrir Nabi Muhammad SAW., terkadang ada tujuan memotivasi. Memotivasi, menciptakan suasana yang subur untuk lahirnya motif, tidak jarang dengan informasi ganjaran tertentu untuk ibadah tertentu. Hanya saja hakikat itu mesti difahami oleh masayarakat luas sehingga tidak salah dalam penafsiran dan lebih-lebih untuk tablig serta amalan.

Kesalahan pemahaman tersebut juga dikhawatirkan timbulnya sikap mencari yang mudah di dalam ibadah ketimbang substansialnya. Padahal, secara substansial tidaklah sama semisalnya ibadah wajib dibandingkan dengan ibadah sunah dan bahkan sifat mubah. Dengan kata lain, teks dalil tidak lagi dilihat dari konteksnya dan inilah yang menjadi dasar utama tulisan ini.

Contoh hadis pertama: Rasulullah SAW., bersabda :

Qul huwallahu aḥad ya’dilu tsulustal Qur’ān

Qul huwallahu aḥad sebanding dengan sepertiga Alquran (HR. Muslim, no. 811).

Salah pemahaman tentang hadis ini “meninggalkan ibadah menamatkan Alquran” padahal cukup banyak dalil yang menyebutkan keutamaan menamatkan Alquran itu. Tidak heran dalam matan hadis lain disebutkan bahwa para sahabat berlomba-lomba semasa Nabi SAW., untuk menamatkan Alquran.

Contoh hadis kedua:

Rasulullah SAW., bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Man dalla ‘alā khairin falahū mitslu ajri fā’ilih

Orang yang menunjuki kepada kebaikan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. (HR. Muslim, no. 1893).

Demikian juga kesalahan pemahaman dalil ini “meninggalkan praktek amal saleh” dan anggapan bahwa cukup memberikan informasi baik lewat media sosial dan audiovisual secara langsung. Padahal, secara konteks adalah dua hal yang berbeda; menunjuki jalan kebaikan vs pelaku ibadah.

Konteks kedua hadis di atas harus diartikan secara benar; teks dilihat secara konteks. Harus difahami bahwa jika membandingkan pahala keduanya, tidak seutuhnya sama kebaikan orang yang mengamalkan baik itu menamatkan Alquran dan amal saleh lainnya dengan sekedar membaca qul huwallahu aḥad dan menunjuki kebaikan saja.

Tidak diperselisihkan dikalangan ulama hadis bahwa membaca qul huwallahu aḥad sebanding dengan membaca sepertiga Alquran, tetapi tidak semua aspek kebaikannya didapatkan dengan hanya sekedar membaca sekali surah al-Ikhlāsh. Begitu juga dengan kualitas hadis “pahala menujuki kebaikan terhadap orang lain itu sebanding dengan pahala yang berbuat”; tidak seluruh aspek kebaikan itu didapatkan dari yang sekedar menunjuki saja dengan yang mempraktekkan secara langsung. Wallahu a’lam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed