by

Konteks Bulan Ramadhan Sebagai Upaya Meraih Ampunan Allah SWT

-RELIGI-100 views

Oleh: H. Muhammad Isya, M.A. Hum

Umumnya, ampunan Allah SWT., digapai dengan cara bertaubat kepada-Nya; dengan cara beristigfar, meninggalkan perbuatan dosa dan menjauhkan diri dari perbuatan tersebut.  Menariknya, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah SWT., mengampuni dosa orang yang berpuasa karena keimanan dan mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh sebab itu, bertaubat dengan berpuasa sangat perlu dijelaskan dalam konteks hadisnya.

Hadis ini berasal dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw., bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Siapa pun yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih).

Secara kaidah bahasa Arab, potongan kalimat ghufira lahu mā taqaddama min dzanbih (maka diampuni dosanya yang telah lalu) adalah jawab dari syarat sebelumnya. Adapun kalimat syarat yang dimaksud adalah man shāma Ramadhān īmānan waḥtisāban (Siapa pun yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan serta mengharap keridhaan Allah). Seterusnya kata īmānan waḥtisāban adalah maf’ūl li ajlih, yang menjelaskan hakikat puasa.

Konteks yang sama dengan hadis di atas, Ibrāhīm bin Fahd bin Ibrāhīm al-Wad’ān menjelaskan tiga penyebab ampunan Allah di bulan Ramadhan ini, pertama sebagaimana hadis di atas telah dijelaskan bahwa dengan berpuasa karena keimanan serta mengharap keridhaan-Nya akan meraih ampunan Allah SWT. Kedua, karena di bulan Ramadhan saja kesempatan beribadah di malam kemuliaan atau lailatul qadar. Di dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasullullah Saw., bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Siapa pun yang beribadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih).

Adapun alasan yang ketiga, bulan Ramadhan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar; sebagaimana hadis yang juga bersumber dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasullullah Saw., bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ.

“Di antara Salat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penggugur dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar” (HR. Muslim, no. 233).

Meskipun terkesan berbeda antara bertaubat dengan berpuasa, tetapi keduanya memiliki hubungan. Bertaubat, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi di bulan yang lain diwajibkan Allah SWT. Bahkan seyogyanya sebagai seorang muslim selalu memperbaharui taubat ini. Rasulullah Saw., bersabda:

وَاللهِ، إِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللهِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً.

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya di setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” (HR. al-Bukhari, no. 5948).

Oleh sebab itu, selain dengan cara bertaubat ampunan Allah juga dapat diraih pada bulan Ramadhan dengan berpuasa atas keimanan dan mengharap keridhaan Allah SWT, beribadah pada malam laiatul qadar, dan menjauhi dosa-dosa besar. Bersamaan dengan hal itu juga selalu memperbaharui istighfar kepada Allah SWT.

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed