by

Konteks Berpuasa Di Bulan Ramadhan dan Meraih Ampunan Allah SWT

-RELIGI-105 views

Oleh: H. Muhammad Isya, M.A. Hum

Di tulisan sebelumnya “Konteks Bulan Ramadhan Sebagai Upaya Meraih Ampunan Allah SWT” bahwa ada banyak cara mendapatkan ampunan Allah SWT. Berpuasa merupakan salah satu darinya, dengan penekanan karena “keimanan dan mengharap keridhaan-Nya.” Pada tulisan berikut ini akan dijelaskan konteks puasa dalam hadis tersebut sehingga dengannya hadis ini tidak difahami lagi secara konteks yang salah. Tidak sedikit dari penanya yang bertanya bagaimana maksud hadis “Siapa pun yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

Pemahaman yang salah, akan difahami bahwa dengan berpuasa itu cukup untuk penggugur dosa yang telah lalu sehingga sebelumnya-sebelumnya bebas melakukan perbuatan dosa apa pun. Demikian juga pehamanan yang fatal, memaknai secara bebas bahwa tidak perlu melakukan ibadah wajib maupun sunat sebelum itu.

Hadis ini berasal dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw., bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Siapa pun yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap keridhaan Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih).

Secara pendekatan kebahasaan, pertanyaan di atas sudah terjawab bahwa puasa Ramadhan di dalam konteks hadis ini sudah dibatasi pada maf’ūl li ajlih, yaitu īmānan watisāban (karena keimanan serta mengharap keridhaan Allah). Tinggal lagi memahami maksud īmānan dan iḥtisāban, karena keduanya secara tidak langsung menjadi syarat menggapai ampunan Allah SWT.

Penulis sependapat dengan penjelasan Abdullah bin Shāliḥ al-Fauzan (2001) dalam menjelaskan syarat berpuasa sehingga mendapatkan ampunan Allah. Pertama, berpuasa yang dimaksud atas keimanannya kepada Allah SWT dan Rasulullah-Nya. Selain dari itu membenarkan kewajiban berpuasa itu sendiri serta membenarkan janji Allah mengganjari pahala yang besar. Kedua, seseorang yang berpuasa itu mengharapkan balasan dan pahala dari Allah SWT. Dalam hal ini tentu saja karena keihlasan semata-mata kepada Allah SWT; bukan karena riya, taklid, tajallud agar tidak dinilai menyelisihi orang-orang dan tujuan-tujuan lain.

Beliau menambahkan syarat mesti menjauhkan seluruh dosa-dosa besar; seperti syirik kepada Allah, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, berzina, menyihir, membunuh, mendurhakai orang tua, memutusi silaturahmi, bersaksi palsu, dan lain sebagainya. Di dalam surah an-Nisā’ ayat 31 dijelaskan:

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”

Apabila seorang hamba berpuasa pada bulan Ramadhan sebagaimana tiga syarat tersebut, akan diampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang kecil selama tidak mengerjakan dosa-dosa besar dan disertai juga dengan bertaubat kepada Allah SWT(Abdullah bin Shāliḥ al-Fauzan, 2001: 34-35).

Oleh sebab itu, pada pernyataan-pernyataan di awal tadi adalah pemahaman yang jelas-jelas keliru. Justru, maksud diampuninya dosa-dosa bagi seseorang yang berpuasa pun mempunyi syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Demikian juga yang dimaksud dengan diampuni dosa-dosa yang telah lalu pun untuk konteks dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang kecil dan disertai dengan bertaubat kepada Allah SWT.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed